Berita Terbaru Entertainment Sutradara Wahyu Agung Prasetyo membuka kemungkinan pengembangan film pendek Tilik menjadi film Panjang walau saat ini ia dan tim rumah produksi Ravacana Films belum membuat keputusan.

“Kalau peluang saya belum bisa jawab karena kami masih menimbang-nimbang ke depan bagaimana. Tetapi tidak menutup kemungkinan (akan menggarap film panjang Tilik),” kata Wahyu pada hari Jumat (28/8) malam.

Ia mengaku tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan untuk membuat film panjang. Saat ini tim Ravacana Films masih melihat situasi untuk mengambil keputusan yang tepat, bukan keputusan yang asal cepat.

Bila jadi menggarap film panjang Tilik, Wahyu belum tahu akan mengerjakan sendiri bersama Ravacana Films atau berkolaborasi dengan rumah produksi lain. Namun ia mengatakan sudah ada rumah produksi yang mengajak kerja sama.

 

Film Tilik Akan Dibuat Versi "Movie"

 

 

Setidaknya ada lima rumah produksi yang sudah berbicara dengan Wahyu. Tidak satu pun ajakan dari lima rumah produksi tersebut diterima oleh Wahyu karena masih menimbang dan waktu yang tepat.

“Rumah produksi yang menghubungi kemarin tergolong besar dengan kredibilitas yang baik. Mayoritas rumah produksi itu berada di Jakarta,” kata Wahyu.

Wahyu sendiri sama sekali belum pernah membuat film panjang. Ia hanya pernah terlibat dalam tiga film panjang yang disutradarai Ismail Basbeth untuk membuat dokumentasi di balik layar.

“Dari situ saya belajar banyak soal film panjang. Di film ketiga, Mas Ismail bilang kalau saya sudah cukup melihat proses pembuatan film pandang dan waktunya bikin film panjang sendiri,” katanya

Menurut Wahyu setidaknya ada beberapa bagian dalam pembuatan film panjang yang lebih sulit dari film pendek, yaitu penulisan naskah, teknis penggarapan dan bujet.

Film pendek Tilik mengisahkan rombongan ibu-ibu yang menempuh perjalanan dengan truk untuk menjenguk Ibu Lurah di rumah sakit. Dalam bahasa Jawa tilik berarti menjenguk orang sakit.

Sepanjang perjalanan, Bu Tejo (Siti Fauziah) menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ia kerap membicarakan seorang perempuan muda bernama Dian, kembang desa di tempat mereka berasal.

Tanpa memastikan informasi yang valid, Bu Tejo membahas berbagai hal tentang Dian. Bahkan ia curiga Dian yang masih melajang adalah perempuan ‘nakal’ karena satu dan lain hal dari kejadian yang ia saksikan.

Ibu-ibu lain terpancing membicarakan Dian lebih dalam, atau dengan kata lain bergosip. Spekulasi yang mereka dengar terus dikembangkan hingga Dian terasa seperti sosok negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *