Berita Terbaru Entertainment Kabar duka kembali selimuti tanah air. Dikabarkan jika Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7). Dia mengembuskan napas terakhir di RS Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan, sekitar pukul 09.17 WIB. Sapardi meninggal dunia karena komplikasi penyakit. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Giritama, Giri Tonjong, Bogor. Berikut seputar tentang profil Sapardi Djoko Darmono :

 

 

Mengenal Lebih Dekat Sapardi Djoko Damono

 

 

1. Cucu Abdi Dalem
Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940. Dia lahir di rumah kakeknya yang merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta dan pembuat wayang kulit.

2. Masa Kecil yang Cukup Sulit
Ayah Sapardi, Sadyoko, harus pergi dari satu desa ke desa lain untuk menghindar dari tentara Belanda. Saat itu, Belanda memang gencar menangkap para pemuda, meski bukan pejuang. Untuk bisa menghidupi keluarganya, ibu Sapardi, Sapariah, harus berjualan buku. Dengan kondisi keuangan yang sulit, Sapardi harus puas makan bubur sehari dua kali setiap hari.

3. Belajar Menulis
Sapardi mulai belajar menulis saat pindah ke Kampung Kompang. Kampung tersebut sangat sepi dan belum terjamah listrik. Kegemaran menulis Sapardi makin terlihat jelas saat ia memutuskan menempuh pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. Ia melanjutkan studi di Universitas Hawaii, Honolulu pada tahun 1970. Kemudian meneruskan studi doktoralnya di Universitas Indonesia di tahun 1980-an.

4. Ahli Memainkan Wayang Kulit dan Aktif di Dunia Teater
Sapardi mewarisi keahlian memainkan wayang kulit dari kakeknya. Pria yang akrab disapa SDD ini juga merupakan gitaris andal. Semasa kuliah, ia kerap membawa gitarnya. Sapardi juga aktif di dunia teater. Berbagai lakon pernah ia jalani saat masih bergabung dengan Teater Rendra pimpinan W.S Rendra. Sapardi juga pernah menjadi sutradara yang menggarap ‘Petang di Taman’ karya Iwan Simatupang.

5. Penghargaan yang Diterima
Sapardi Djoko Damono tidak hanya membuat puisi, tapi juga cerita pendek. Dia mendapatkan sejumlah penghargaan selama berkecimpung di dunia sastra. Salah satunya adalah Sapardi mendapatkan anugerah SEA Write Award pada tahun 1986. Selain itu, Sapardi juga pernah memperoleh penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

Selamat jalan Sapardi Djoko Damono. Semoga almarhum diterima disisi-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *