Berita Terbaru Entertainment Nyatanya tiap kesuksesan seseorang pasti melalui masa-masa sulit terlebih dahulu. Tak terkecuali seorang Tirta Mandira Hudhi atau yang lebih dikenal dengan sapaan Dokter Tirta. Sebagaimana cowok kelahiran 30 Juli 1991 itu bercerita bahkan pernah menjalani hidup susah makan nasi aking sisa warteg.
Darah bisnis dalam diri Dokter Tirta sudah mengalir sejak kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM). Dia memutuskan untuk jualan gorengan dengan harga Rp 250 perak per butir yang dijual di kampus. Setiap harinya, Dokter Tirta mau enggak mau bangun pagi buta sejak pukul 04.00.

“Gue ke pasar di Jalan Magelang dekat TVRI. Kulak gorengan dan gue jual ke lingkungan kampus yang ternyata jelek, kantinnya jauh. Jadi dari situ gue menjual gorengan dengan harga 10 kali lipat lebih mahal. Akhirnya itu lancar,” tuturnya .

Enggak cuma jual gorengan, Dokter Tirta juga mencoba usaha jasa cuci sepatu dan jual sepatu dari kosnya. Ia bahkan sempat dihina karena menjalani bisnis tersebut.
Namun usaha gorengan dan sepatu yang berjalan sukses, sempat membuat Dokter Tirta menjadi terlalu arogan. Hal ini bikin dia gagal dan bangkrut.

 

Kisah Perjalanan Dokter Tirta Menuju Kesuksesan

 

 

“Gue punya cash banyak, gue enggak pernah gagal. Gue kulak sepatu dan akhirnya gue ketipu. Di situ gue merasakan makan nasi sisa-sisa dari warung depan namanya Warung Toetoeng di Pogung (Sleman, D.I. Yogyakarta),” tuturnya.

“Jadi makasih bu Toetoeng. Itu nyelametin gue. Dia sekarang kaget, ‘Sekarang saya bangga, enggak sia-sia saya ngasih sisa sarden ke Anda’,” lanjut cowok asal Karanganyar, Jawa Tengah itu.

Saat pindah ke Jakarta, Dokter Tirta juga enggak langsung berhasil dengan usahanya. Ia pernah harus tidur di emperan dan enggak bisa pulang sehabis sewa ruko.
Namun kini atas kerja kerasnya, Dokter Tirta telah memiliki sederet usaha di berbagai bidang. Mulai dari jasa [perawatan sepatu di Shoes and Care, event organizer Solevacation, marketplace jual-beli sepatu Tukutu Store, sampai sederet fashion line Communion Management, Communion Studio, Sage Denim, dan Fuse Concept.
Ia juga punya dua bisnis di bidang agency branding, mengurus tujuh akun online shop, dan 14 brand lokal.
Untuk mengurus usaha-usahanya tersebut, Dokter Tirta dibantu oleh 14 fotografer, delapan admin, empat manajer, dan sejumlah karyawan di Shoes and Care yang terdiri dari anak jalanan dan orang-orang putus sekolah.

“Lo harus menerapkan Pasal 34 di seluruh Indonesia, fakir miskin anak terlantar dipelihara oleh negara. Mereka juga berhak bahagia. Dulu gue masih rusak-rusakan bareng, terus di situ gue bilang, ‘yuk, kalian ikut aja aku kerja’. Dari situlah aku membuat sebuah statement emang aku harus mengangkat orang seperti itu,” ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *